Constructive Eati
NAOMIITO
ASI
anak
me
hamil
Bayi
Ibu
MPASI

Setujukah Memberikan Time-out Ketika Anak Rewel?

Memberikan time-out ketika menghadapi anak yang sedang rewel memang bisa menjadi cara untuk mendisiplinkan anak, menenangkan, dan membuat anak belajar mengelola emosinya. Namun, memberikan time-out juga memiliki efek bagi psikologis anak bila dilakukan dengan cara yang salah.

Memberikan time-out ketika menghadapi anak yang sedang rewel memang bisa menjadi cara untuk mendisiplinkan anak, menenangkan, dan membuat anak belajar mengelola emosinya. Namun, memberikan time-out juga memiliki efek bagi psikologis anak bila dilakukan dengan cara yang salah.   Pasti setiap orang tua pernah ya kepancing emosinya gara-gara anak lagi rewel, uring-uringan? Sering kali kita sebagai orang tua berusaha untuk lebih sabar ketika menghadapi anak yang rewel, merengek, bahkan tantrum. Namun, kita juga sering jadi terpancing emosinya ketika anak sudah kita baik-baiki namun ia tetap saja rewel, keras kepala, dan menangis kejer bahkan tantrum. Menghadapi anak yang rewel, kita jadi ikut emosi, memarahinya, membentaknya, bahkan mungkin ada orang tua yang tidak bisa kontrol emosi sampai sentuhan fisik, memukul atau mencubit anaknya. Yang ada ujung-ujungnya anak menjadi tambah menangis.   Kalau Mom menghadapi situasi seperti itu bagaimana reaksi Mom? Nah, belakangan ini banyak orang tua, juga guru di sekolah-sekolah menerapkan metode time-out pada anak yang sedang rewel, menangis, atau tantrum.   Pernah dengar gak Mom?   Time-out ini merupakan cara orang tua untuk memberikan waktu sejenak pada anak, baik yang menangis, “berulah”, tidak bisa diam, dan tantrum. Memberikan time-out ini merupakan metode parenting ala barat untuk mendisiplinkan anak. Caranya sebenarnya mudah, yaitu dengan memberi anak waktu sendiri kurang lebih 2-5 menit untuk “menikmati” emosinya, baik itu menangis, marah, ataupun tidak bisa diam, memberikan waktu untuk menenangkan diri.   Dengan memberikan time-out pada anak yang sedang rewel atau berulah, sebenarnya secara tidak langsung juga memberikan time-out pada orang tua loh Mom. Ketika anak kita berikan time-out, misalnya dengan memintanya untuk diam di kamar (bukan dikurung dalam kamar ya Mom) agar ia lebih tenang, kita pun bisa menarik nafas dalam-dalam dan menata kembali emosi kita Mom. Jadi emosi kita pun tidak ikut terpancing, menghadapi tingkah laku anak yang sedah menyebalkan atau rewel.   Sebelum memberikan anak waktu time-out dan membawanya ke ruangan berbeda atau kita tinggalkan ia sendirian, pastikan kita memberi tahunya bahwa kita akan meninggalkannya sebentar agar ia bisa tenang dan ia bisa keluar kamar, misalnya ketika ia sudah tenang dan berhenti menangis. Selain itu, pastikan juga keadaan si anak aman, misalnya di dalam kamarnya tidak ada benda tajam seperti gunting.   Cara menghadapi anak yang bertingkah menyebalkan, rewel ini dengan memberikan time-out mulai banyak juga diterapkan di sekolah-sekolah preschool sekarang ini. Dimana anak yang sedang rewel, menangis atau tidak bisa diam diminta untuk duduk atau berdiri di pojok kelas menghadap tembok. Kemudian dipersilahkan duduk kembali bila anak sudah tenang.   Sebenarnya metode time-out ini ada pro-kontranya. Bagi yang pro, melihat sisi positif dari memberikan time-out pada anak, yaitu anak jadi lebih disiplin, mandiri, dan bisa belajar untuk mengatur atau mengkontrol emosinya sendiri, juga memberikan waktu untuk orang tua menenangkan diri agar tidak terpancing emosi. Sedangkan bagi orang tua yang kontra beranggapan bahwa cara ini terlalu “keras” untuk anak, terutama anak seusia balita.   Lebih jauh lagi, sebenarnya metode time-out dalam mengatasi anak yang sedang bertingkah rewel, tantrum atau keras kepala adalah bentuk disiplin “ringan” dan memang lebih baik daripada dengan cara membentak apalagi kekerasan fisik. Namun, menurut Dr. Daniel J. Siegel dan Tina Payne Bryson , Ph.d, dalam artikel TIME, mengungkapkan bahwa hukuman time out bisa berbahaya pada otak anak yang sedang berkembang. Memang efek jera yang bisa ditimbulkan dari time-out ini lebih ringan dibandingkan dengan efek dari kekerasan fisik dan verbal.  Siegel dan Dr. Bryson mengingatkan kepada orang tua untuk memberikan time-out pada anak bukan sebagai hukuman, seperti mengurung atau mengunci anak dalam kamar, dalam kamar mandi, atau sebagainya. Namun lebih pada cara untuk memberikan kesempatan anak untuk belajar sesuatu dari emosinya, bagaimana ia memecahkan masalah.   Memberikan time-out pada anak juga bisa membuat anak merasa terisolasi. Alih-alih maksud hati memberikan time-out pada anak dan memintanya untuk masuk ke kamar agar ia bisa merenungkan kesalahannya dan menenangkan diri, namun bisa saja anak justru salah menangkap maksud orang tua memberikan time-out. Anak jutsru jadi merasa bahwa orang tuanya marah pada dirinya, bukan perilakunya. Dan anak malah berpikir bahwa orang tuanya yang tidak bisa mengatur emosinya sehingga menghukumnya dengan mengurung di dalam kamar. Perasaaan anak terisolasi dapat menimbulkan perasaan ditolak dan merasa tidak disayang.   Ketika memberikan time-out pada anak, baiknya tidak di depan orang banyak atau di depan umum. Karena ketika anak menangis, rewel, kemudian kita memberikan time-out dan memintanya untuk ke ruangan berbeda, ia akan merasa seperti dipermalukan dan akan membuatnya malah kelak menutup diri.   Untuk itu, bila Mom ingin mencoba metode time-out, hendaknya Mom lakukan di rumah, jangan di tempat umum. Selain itu, jangan memintanya ke ruangan berbeda atau meninggalkannya sendiri ke ruangan lain di depan banyak orang sehingga ia merasa dipermalukan dan tidak dihargai. Dan harus diingat ketika memberinya time-out, Mom dan ayah harus menyampaikannya dengan bicara baik-baik, jangan membentak atau memarahinya, karena anak bisa berpikir bahwa time-out yang diberikan sebagai hukuman, bukan waktu untuk menenangkan diri. Katakan pada anak, bahwa Mom memberinya waktu untuk menenangkan diri, ketika sudah tenang dan tidak menangis lagi, anak bisa menemui Mom dan bicara baik-baik. Ketika time-out sudah diberikan, Mom harus menjelaskan pada anak bahwa waktu yang Mom berikan dengan meninggalkannya sendiri bukanlah bentuk hukuman.