hamil
menyusui
hamil minggu
anak sakit
ASI
MPASI
Resep mpasi
GTM
review

Depresi Pasca Melahirkan dan Peran Penting Suami

Pada umumnya, depresi pasca melahirkan sering dianggap sebagai baby blues. Memang sih, keduanya terlihat mirip, karena sebenarnya depresi pasca melahirkan merupakan gejala kelanjutan dari baby blues itu sendiri. Gejala-gejala tersebut bisa berupa perasaan sensitif yang tinggi, keinginan tidur berleb

Pada umumnya, depresi pasca melahirkan sering dianggap sebagai baby blues. Memang sih, keduanya terlihat mirip, karena sebenarnya depresi pasca melahirkan merupakan gejala kelanjutan dari baby blues itu sendiri. Gejala-gejala tersebut bisa berupa perasaan sensitif yang tinggi, keinginan tidur berlebih, nafsu makan yang menurun atau malah meningkat, perasaan sedih, kosong dan putus asa setelah proses melahirkan. Ternyata depresi pasca melahirkan punya dampak yang sangat buruk bagi Mommy sendiri, anak dan suami apabila tidak di handle dengan baik. Oleh karena itu, para mommies harus sadar loh kalau gejala ini timbul dan secepatnya mencari cara untuk mengatasinya. Disamping itu, peran suami tidak kalah penting dalam mengatasi hal ini, kali ini kita lihat yuk beberapa hal yang bisa kita beritahu ke para suami:   1. Memberikan Kata-kata Positif Para Mommies yang terkena depresi pasca melahirkan seringkali melihat dirinya sebagai ibu yang kurang baik, memiliki bentuk fisik yang buruk, selalu kurang dalam segala hal, dan hal negatif tentang gambar dirinya. Nah, para suami ternyata mampu mengembalikan citra diri istrinya dengan memberikan kata-kata yang positif. Contohnya ya, suami dapat memberikan kejutan (bisa berupa kue, bunga, hadiah yang disenangi oleh istri, jangan lupa kasih surat cinta yang sweet yah!) sebagai wujud apresiasi yang diberikan karena para istri telah melahirkan anak yang luar biasa ke dunia dan telah mengorbankan banyak hal demi si Kecil. Para suami juga dapat memberikan kata-kata pujian khususnya yang berkaitan dengan kecantikan fisik (bukan berarti kita bohong loh). Tidak ada salahnya jika suami mengatakan istrinya cantik, agar sang istri tetap terjaga kepercayaan dirinya. Selain itu kata-kata positif seperti : “Wah masakan mommy enak sekali” atau, “Mam, terima kasih telah menjadi istri yang luar biasa.” Dan masih banyak kata lainnya yang dapat digunakan untuk memberikan dukungan kepada istri di masa-masa ini. Yang penting positif ya!   2. Meluangkan Waktu dengan Si Kecil Penting sekali nih bagi para suami untuk memulai hubungannya dengan sang bayi sedini mungkin. Jangan salah loh, hubungan yang baru terbentuk itu tidak hanya akan bertambah kuat untuk seminggu dua minggu, namun juga hingga bertahun-tahun yang akan datang. Dengan kata lain, jika melihat seorang suami yang kelihatan dekat dengan anaknya, itu semua tidak terjadi secara instan ya pastinya. Setiap tatapan, sentuhan, ciuman, kata dan nyanyian yang dinyanyikan untuk si kecil tentunya akan mempererat hubungan suami dengan sang buah hati. Jangan lupa setiap beraktivitas dengan si kecil, sebaiknya memberikan kontak mata dan kontak fisik yang baik karena menurut penilitian ternyata hal ini bisa meningkatkan perkembangan otak bayi loh. Ini juga kesempatan bagi para suami untuk merangsang hormon oksitosin yaitu hormon yang meningkatkan rasa kedekatan. Di awal-awal sih mungkin akan terasa seperti hubungan satu arah (bicara sendiri tanpa balasan setimpal), tapi nanti juga si kecil akan memberikan respon seperti: tersenyum dan berceloteh “au au, oh, uh”. Di waktu itulah si kecil merasa aman, diperhatikan dan disayang tanpa syarat. Untuk meningkatkan hubungan tersebut suami dapat bermain bersamanya dan menggendongnya, nilai lebih bila suami mampu menggantikan popoknya atau memandikannya.   3. Kehadiran Seorang Suami Di beberapa Negara, para suami diberikan hak untuk cuti berbulan-bulan loh apabila istrinya melahirkan. Namun demikian, Negara kita masih belum menerapkan hak cuti tersebut (paling hanya beberapa hari dengan kebijakan kantor yang berbeda-beda). Namun bukan berarti para suami tidak dapat memberikan yang terbaik bagi istrinya paska-melahirkan ya. Para suami sebaiknya menghindari meeting di malam hari, perjalanan bisnis ke luar kota, atau kerja lembur hingga larut malam. 6 minggu pertama paska-melahirkan merupakan masa krusial untuk pemulihan kondisi fisik maupun mental para istri. Paling tidak sampai 6 minggu tersebut, para istri sangat membutuhkan waktu dan kehadiran sang suami agar istri tidak merasa sendirian. Suami dapat membantu meringankan pekerjaan rumah tangga, menyiapkan makan untuk istri, dan menolong istri bila ia merasa kesusahan. Pekerjaan di kantor memang penting dan rumit, tapi menempatkan keluarga sebagai prioritas merupakan investasi yang tidak ada bandingannya. Jadi, buatlah keluarga menjadi yang pertama, yakinkan istri bahwa suami selalu memikirkannya (bisa dengan sesekali menelepon istri saat suami di kantor).    4. Menciptakan Hubungan yang Intim dan Nyaman 6 minggu pertama paska-melahirkan, para suami dan istri harus menahan diri ya dari hasrat untuk melakukan hubungan intim. Mengapa? Karena istri baru saja mengalami proses yang LUAR BIASA dalam tubuhnya, perubahan hormon dan fisik yang drastis membuat tubuh istri harus pulih secara sempurna untuk kembali dapat berhubungan intim. Selama 6 minggu paska-melahirkan, rahim secara perlahan akan kembali ke bentuknya yang semula, diiringi dengan darah kotor yang keluar melalui vagina. Jadi para suami harus bersabar yah! Hal ini demi kesehatan suami dan istri juga loh. Lalu bagaimana caranya agar tetap intim? Suami dapat tetap menjaga hubungan yang intim dengan berpelukan, berciuman mesra, memanjakan istri atau mungkin istri dapat memberikan pemuasan secara oral kepada suami. Tetap saja semuanya itu harus dalam keadaan yang nyaman bagi keduanya loh. Khususnya untuk para istri yang mungkin masih kehilangan hasrat tersebut paska-melahirkan.   Semoga apa yang dibagikan dapat bermanfaat bagi para Mommies & Daddies ya. Semangat selalu menjalani musim yang baru di rumah tangga Mommy! Referensi: Murkoff and Mazel