Constructive Eati
NAOMIITO
ASI
anak
me
hamil
Bayi
Ibu
MPASI

4 Cara Memperkenalkan Budaya Pada Anak

Sudahkah anak di rumah mengenal budaya bangsanya? Atau setidaknya budaya dalam lingkungan di mana ia tinggal? Mengenai budaya ini, buah hati penting diperkenalkan dengan budaya bangsanya sejak sedini mungkin. Memperkenalkan budaya bangsa ke buah hati bisa menumbuhkan kesadaran dalam dirinya agar leb

Sudahkah anak di rumah mengenal budaya bangsanya? Atau setidaknya budaya dalam lingkungan di mana ia tinggal? Mengenai budaya ini, buah hati penting diperkenalkan dengan budaya bangsanya sejak sedini mungkin. Memperkenalkan budaya bangsa ke buah hati bisa menumbuhkan kesadaran dalam dirinya agar lebih mencintai bangsa dan negaranya. Memperkenalkan budaya ini juga bisa membuat anak lebih menghargai keberagaman budaya yang ada di sekitarnya.   Untuk apa kita perlu memperkenalkan akar budaya pada anak-anak? Baik untuk keluarga kecil atau keluarga besar (bangsa), penanaman nilai budaya itu berguna untuk membantu mereka menjadi orang bijak (wise). Bijak di sini adalah kemampuan memilih keputusan dan pandangan hidup yang lebih membawa kebaikan di lingkungannya untuk hal-hal yang sifatnya pilihan (choice), bukan untuk hal yang sudah mutlak salahnya atau benarnya.   Menurut para ahli, memperkenalkan budaya pada anak sejak dini sangatlah penting. Tak hanya budaya bangsa dan negaranya, budaya yang harus dikenalkan pada anak juga termasuk budaya bangsa lain.   Anak-anak kecil tidak memiliki prasangka sosial dan terkadang orang dewasa lupa akan hal itu. Sangat penting untuk mengambil sikap sekarang untuk memengaruhi generasi berikutnya dan memastikan mereka berpikiran terbuka, welas asih dan peduli akan sekitar.   Ketika anak telah mengenal budaya bangsanya, mereka diharapkan bisa menghadapi benturan konflik sosial sejak sedini mungkin. Mengenalkan budaya bangsa ini mendorong anak untuk tidak mudah terpengaruh oleh segala hal yang bisa memecah belah bangsanya.   Anak yang telah mengenal perbedaan budaya dengan baik, mereka akan lebih menghargai segala perbedaan yang ada di sekitarnya. Anak juga akan lebih menghormati dan merasa simpati maupun empati terhadap orang lain di sekitarnya.     Indonesia memiliki lebih dari tujuh belas ribu pulau, tak kurang ada 1.128 suku, dan 750 bahasa daerah. Jumlah penduduk kita separuh dari negara-negara di kawasan ASEAN. Kalau kita bayangkan peta Indonesia, dari Aceh sampai Papua, peta Eropa itu akan tertutup peta Indonesia. Sebab, besarnya Indonesia itu merentang dari London Sampai Moskow.   Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Memiliki wilayah yang luas serta kaya beragam suku dan bahasa, maka kita harus bersyukur atas kesadaran yang dimiliki oleh para pendiri bangsa.   Generasi terdahulu bersepakat bahwa Indonesia tidak bisa didirikan atas dasar kesamaan suku, bahasa, tapi harus ditopang oleh kesamaan ide/visi mewujudkan kemerdekaan, keadilan dan kesejahteraan.   Indonesia saat ini bisa dibilang bubar tidak, bersatu sekali juga belum. Konflik sektarian kerap berlangsung. Entah dipicu oleh persoalan agama, kepercayaan, suku maupun golongan (kekuasaan politik). Bahkan konflik tersebut sampai terartikulasi dalam bentuk tindakan yang paling absurd—terutama di social media dan televisi—sebagai sesama anak bangsa: saling nyinyir, bully, dan beragam saling curiga dan berasumsi.   Anak-anak Indonesia juga terpapar konflik melalui tontonan (televisi) atau bahkan dalam kehidupan sehari-sehari mereka, akan turut membentuk persepsi atau cara pandang anak-anak pada lingkungan. Akibatnya bisa muncul benih-benih sikap tidak toleran, mengklaim dirinya paling benar, dan memilih jalan pintas yang dekat dengan unsur kekerasan (radikalisme) untuk menyelesaikan persoalan.   Kita tentunya tidak ingin itu terjadi. Oleh karenanya anak-anak sejak dini harus diperkenalkan dengan perbedaan. Diberikan pemahaman bahwa mereka akan hidup dan beinteraksi dengan berbagai macam orang yang memiliki latar belakang keyakinan, suku, agama dan budaya yang berbeda.     Cara Memperkenalkan Akar Budaya dan Budaya Lain Pada Anak   Membacakan buku tentang budaya Indonesia dan budaya negara lain   Banyak sekali buku yang berisi tentang adat istiadat di Indonesia dan negara lain. Mulai dari sisi pakaian tradisional, bahasa daerah, lagu, cerita rakyat, makanan khas, hingga tempat-tempat wisatanya. Pengetahuan tentang keragaman yang anak-anak peroleh dari bacaan tersebut menjadi modal awal bagi ingatan mereka bahwa Indonesia itu terdiri atas beragam adat istiadat dan budaya tapi semua menyatu dalam satu bangsa yaitu Indonesia. Pengetahuan tentang budaya lain yang ada di dunia ini juga akan memperluas cakrawala mereka.   Anak-anak diajak menyaksikan gelaran seni tradisi   Budaya nasional adalah puncak dari seni-seni tradisi. Tiap daerah memiliki seni tradisi yang mengandung makna filosofi, fungsi sosial dan kegunaan praktis yang berbeda-beda.   Saat mengajak anak-anak menyaksikan seni tradisi, misalnya wayang orang (Jawa Tengah) , lain waktu ludruk (Jawa Timur), dalam kesempatan yang berbeda menyaksikan tari Saman (Aceh).   Dari situ Anda bisa menjelaskan bahwa bahwa tiap daerah memiliki seni tradisi yang berbeda. Baik dari pakaian maupun gerakan.   Berkunjung ke rumah teman yang berbeda suku dan agamanya   Ketika berkunjung tersebut, biarkan anak-anak berkenalan dan berinteraksi dengan anak-anak teman Bunda. Dari situ harapannya akan muncul interaksi yang akrab dan menyenangkan. Sehingga terjalin pertemanan yang wajar tanpa harus melihat terlebih dahulu agama dan sukunya.   Berpartisipasi dalam acara tertentu   dalam acara-acara tertentu misalnya saat perayaan agustusan (HUT Proklamasi RI), ketika karnaval anak-anak diminta memakai beragam baju adat yang berbeda-beda.   Atau saat tampil di acara panggung seni mereka menyanyikan beberapa lagu daerah yang sebelumnya telah diajarkan oleh para bundanya di sekolah.     Tips Menularkan Budaya Positif Pada Anak   Melalui simbol fisik   Atribut, peralatan, bahasa, dan lain-lain. Dengan mengajarkan anak bahasa daerah akan menanamkan identitas kedaerahan atau sopan santun   Melalui imitasi (meniru)   Pola pikir, pola ungkap, pola sikap, keyakinan, prilaku atau kebiasaan yang dihasilkan dari proses duplikasi dari para pendahulu   Melalui pengalaman   Pengalaman dalam menangani masalah, pengalaman dalam memperjuangkan keinginan, dan lain-lain. Anak akan meniru budaya orangtua dalam menangani masalah, baik yang kecil atau yang besar.   Melalui Pengajaran dan Pembelajaran   Misalnya dengan peraturan, sistem hidup, penanaman norma, story-telling, dan lain-lain     Budaya terus berkembang. Jika tidak diajari dari kecil, biasanya yang muncul adalah sikap yang ekstrim menerima atau menolak.   Meskipun menanamkan budaya itu penting, tetapi kalau terlalu ketat memegang budaya juga tidak baik. Jadi, yang ideal adalah proporsional. Kita tetap menanamkan budaya lama, namun terbuka terhadap budaya baru. Abraham Maslow, pakar psikologi humanis, menyebutnya dengan ungkapan menghormati budaya.   Membesarkan anak-anak dengan menghargai perbedaan dapat membantu menjadikan dunia tempat yang lebih baik.       Sumber: Fimela Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Huffington Post Sahabat Nestle