hamil
menyusui
hamil minggu
anak sakit
Asi
MPASI
Resep mpasi
GTM
review

4 Tips Menghadapi Pertengkaran Dalam Pernikahan

Pertengkaran dalam pernikahan adalah hal yang biasa dan wajar. Bahkan ada pepatah mengatakan bahwa masalah atau pertengkaran adalah garam dalam pernikahan. Seperti halnya masakan bila tidak pakai garam, tidak sedap bukan?

Pertengkaran dalam pernikahan adalah hal yang biasa dan wajar. Bahkan ada pepatah mengatakan bahwa masalah atau pertengkaran adalah garam dalam pernikahan. Seperti halnya masakan bila tidak pakai garam, tidak sedap bukan? Sama juga dengan pernikahan, tanpa pertengkaran rasanya akan hambar, begitu-begitu saja. Bagus bila pertengkaran justru bisa membuat hubungan suami-istri tambah mesra dan harmonis. Namun, bagaimana bila pertengkaran itu makin lama membuat pernikahan kalian dalam masa kritis dan akhirnya bercerai?   Berikut tips dari Mamibuy ketika Mom dan suami menghadapi pertengkaran dalam pernikahan:   1. Tenangkan diri Saat menghadapi pernikahan yang kritis, jangn pernah ya Mom dengan keadaan yang labil, masih terbawa emosi. Karena dalam keadaan emosional, baik Mom maupun suami tidak dapat berpikir jernih. Ada baiknya Mom tenangkan diri dulu, misalnya dengan pergi berlibur seorang diri untuk merenung dan berpikir dengan tenang. Mom bisa pergi mengunjungi tempat favorit Mom dan menghabiskan waktu disana untuk beberapa hari.   Namun, menenangkan diri tidak berarti pisah rumah ya Mom. Karena pisah rumah memiliki tujuan yang berbeda sebenarnya dengan pergi untuk merenung atau menetralkan pikiran. Jika pisah rumah identik seperti “kabur” dari masalah. Sedangkan pergi jalan seorang diri identik untuk menenangkan diri, agar bisa berpikir lebih jernih, merenungkan masalah, untuk mencoba mencari jalan keluar bersama, dan ketika sudah lebih tenang akan kembali dengan “soul” yang lebih baik.   Penting diingat ya Mom, sebesar apapun masalah pernikahan kalian untuk jangan pernah untuk pisah rumah ataupun pisah ranjang. Karena dengan pisah rumah maupun pisah ranjang justru akan mengurangi kemungkinan kalian berkomunikasi yang mana justru akan menambah celah untuk kesalahpahaman.   2. Jangan menceritakan masalah pada keluarga dan teman Dalam menghadapi situasi pernikahan yang kritis, sekalipun ada masalah besar dan rasanya sudah tidak sanggup untuk menahan tanggis dan amarah, jangan pernah memilih untuk menceritakan pada keluarga dan teman. Karena menceritakan pada pihak keluarga sendiri, seperti orang tua, tante atau om, termasuk teman, karena pasti timbul subjektivitas, keberpihakkan.   Memang ada orang tua atau pihak keluarga, yang bisa bersikap adil, objektif, dan tidak memihak. Namun umumnya, ketika ada masalah, pihak keluarga istri akan menyalahkan suami, begitu pula sebaliknya.   Meskipun masa kritis pernikahan kalian sudah teratasi dan hubungan kamu dengan suami sudah membaik, tapi pendangan dan prasangka mereka terhadap suami kamu tentu akan berbeda dari sebelumnya.   Untuk itu, hindari untuk menceritakan urusan atau masalah pernikahan kamu kepada keluarga ya Mom, apalagi menjelek-jelekkan suami kamu. Begitu juga dengan teman, karena mungkin saja teman sendiri belum ada pengalaman menghadapi masalah yang sama dengan kamu.   3. Melakukan konseling pernikahan Jika kamu merasa benar-benar sudah buntu, dan butuh teman untuk berbagi cerita, butuh saran maka pergilah untuk melakukan konseling pernikahan pada orang yang tepat. Siapakah orang yang tepat itu?   Kamu bisa meminta saran atau bercerita pada guru spiritual kamu Mom, misalnya Ustad atau Kiai untuk muslim, Pendeta atau Pastor untuk kristiani dan katolik, dan pemuka agama lainnya. Atau jika Mom merasa malu dan risih, jangan sungkan untuk pergi ke konsultan pernikahan.       Karena dengan berkonsultasi pada orang yang tepat, maka saran yang diberikan akan lebih objektif dan lebih bisa menenangkan untuk diri sendiri.   Jika Mom berniat untuk berkonsultasi dengan guru spiritual / pemuka agama ataupun jasa konsultan pernikahan, jangan ragu untuk mengajak suami ya Mom. Karena akan lebih baik bila kalian berdua pergi bersama, sehingga kalian berdua akan mendapatkan “pencerahan”dan termotivasi untuk memperbaiki pernikahan kalian.   4. Jangan pernah memikirkan bercerai   Hal yang terpenting dalam menghadapi pernikahan yang kritis ialah jangan pernah memikirkan untuk bercerai. Karena ketika kamu memikirkan untuk memilih bercerai, itu artinya kamu menyerah Mom. Karena sebenarnya perceraian bukanlah solusi melainkan cara untuk melarikan diri, keluar dari masalah tanpa menyelesaikan masalah.   Ibaratnya kamu sedang tercebur ke dalam sebuah kolam besar yang mana kamu tidak bisa berenang. Ketika kamu pasrah untuk mencoba keluar dari kolam tersebut, maka kamu akan tenggelam. Namun ketika kamu terus berupa entah dengan teriak minta tolong, maka akan ada harapan bukan untuk keluar dan kolam tersebut.   Saat menghadapi pernikahan yang kritis, yang lebih penting ialah kesadaran bahwa pernikahan kalian harus diselamatkan dan ada baiknya dimulai dari kamu dulu Mom (lebih baik masing-masing kedua belah pihak) untuk memiliki. Artinya dengan hati yang merendah disini ialah kamu, namun juga melihat dalam diri apakah kamu salah untuk harusnya begini begitu, tapi mulai bersikap baik dari diri kamu sendiri. Lama-kelamaan pasangan pun akan melihat perubahan sikap dan niat baik kamu untuk memperbaiki pernikahan kalian dan itu bisa mengetuk hatinya.