hamil
menyusui
hamil minggu
anak sakit
ASI
MPASI
Resep mpasi
GTM
review

Kenapa ASI Perah (ASIP) Bau Tengik? Amankah Diminum Bayi?

Pernahkah ASI perah Mom bau tengik padahal belum kedaluwarsa serta cara perah dan simpannya sudah benar? Mom pasti panik mendapati ASI perah berbau tengik apalagi sudah disimpan dalam jumlah banyak. Tenang Mom, ASI perah bau tengik bukan berarti sudah basi. Kenapa ASI perah bisa bau tengik? Amankah

Pernahkah ASI perah Mom bau tengik padahal belum kedaluwarsa serta cara perah dan simpannya sudah benar? Mom pasti panik mendapati ASI perah berbau tengik apalagi sudah disimpan dalam jumlah banyak. Tenang Mom, ASI perah bau tengik bukan berarti sudah basi. Kenapa ASI perah bisa bau tengik? Amankah diminum bayi?  Yuk simak juga cara mencegah supaya ASI perah Mom ga berbau tengik!         Mengapa ASI perah bau tengik?   ASI perah bau tengik adalah hal yang normal lho Mom! Bau tengik pada ASI perah disebabkan oleh tingginya kandungan enzim lipase dalam ASI yang berfungsi:   1. Membantu lemak di dalam ASI tercampur rata sehingga mudah dicerna oleh bayi. 2. Membantu memecah lemak dalam ASI sehingga vitamin larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K) dan asam lemak yang mudah diserap oleh sistem pencernaan bayi. 3. Melumpuhkan protozoa penyebab penyakit sehingga menghindarkan bayi dari infeksi.     Itulah sebabnya lemak merupakan salah satu komponen utama dalam ASI, tapi lemaknya tidak membuat anak ASI mengalami obesitas (kegemukan). Lemak dalam ASI akan diuraikan oleh enzim lipase secara tepat sesuai dengan kebutuhan bayi.   Semakin lama ASI perah disimpan, baik di suhu ruangan atau kulkas luar freezer, maka semakin banyak aktivitas lipase dan kadarnya semakin tinggi sehingga membuat ASI berbau tengik atau seperti sabun, muntahan atau kadang juga bisa berbau seperti besi. Apalagi jika jumlahnya berlebihan. Tapi bukan berarti ASIP itu rusak. Bau tengik ASI perah akan sangat terasa saat ASI dicairkan dari kondisi beku.     Mengukur tinggi rendahnya kadar lipase dalam ASI perah   Mom bisa melakukan tes sederhana untuk mengetahui tinggi-rendahnya kadar lipase dalam ASI perah Mom yaitu dengan:   1. Pompa ASI seperti biasa, lalu tempatkan pada wadah tertutup dan diamkan dalam suhu ruangan selama 30 menit. Lalu pompa lagi ASI baru, lalu bandingkan rasa antara kedua ASI perah itu. 2. Bandingkan ASI perah yang masih segar dengan ASI perah yang sudah disimpan di kulkas. 3. Bandingkan lagi ASI segar dengan ASI perah dingin atau beku yang sudah dicairkan dan dihangatkan.     Apabila diantara percobaan-percobaan di atas tidak ada perbedaan rasa (mungkin berbeda, tetapi tidak terlalu tajam perbedaan rasa dan baunya) maka kadar enzim lipasenya tergolong normal. Namun, jika ada perbedaan rasa dan aroma yang tajam maka ASI Mom tergolong berlipase tinggi.        Penyebab ASI Perah Bau Tengik   Tingginya kadar enzim lipase tidak disebabkan oleh makanan yang bunda konsumsi, namun disebabkan oleh:   1. Sistem pencernaan Mom yang juga memiliki kadar lipase tinggi. 2. Mom mengalami peradangan pankreas, masalah dengan organ empedu, penurunan fungsi ginjal dan masalah pencernaan lainnya.       Apakah ASI perah bau tengik aman bagi bayi?   Sebenarnya ASI perah bau tengik yang disebabkan oleh kadar lipase tinggi tidak berbahaya bagi bayi. Namun pastikan dulu bau tengik dari ASI perah Mom karena lipase dan bukan karena kedaluwarsa. Kebanyakan bayi tidak masalah dengan ASI perah berbau tengik, tapi sebagian bayi yang lebih sensitif akan menolaknya.     ASI perah yang sudah terlanjur tengik harus diapakan ya?   Lalu bagaimana untuk ASI perah yang sudah disimpan dalam kulkas dan terlanjur tengik? Tidak ada yang Mom bisa lakukan untuk menghilangkan bau tengiknya bila sudah terlanjur tengik di dalam kulkas. Mom bisa mencoba mencampur ASI perah beku yang tengik tersebut dengan ASI perah yang fresh, dan mulailah dengan presentasi ASI perah fresh yang lebih besar (misal 70%) dan ASI perah beku 30% untuk melihat apakah Si Kecil mau meminumnya, dan perlahan tingkatkan presentase ASI perah beku sebanyak yang masih bisa diterima Si Kecil.   Bila setelah Mom mencampur ASI perah fresh dengan yang beku dan Si Kecil masih menolaknya, jangan buru-buru dibuang. Mom bisa menggunakan ASI perah yang sudah berbau tengik tersebut untuk kegunaan lainnya (simak pembahasannya di artikel saya mengenai Kegunaan Lain ASI ya)       Mencegah ASI Perah Bau Tengik   Jika bisa, susuilah Si Kecil secara langsung karena ASI segar tidak berubah rasa dan bau meski kadar lipasenya tinggi. Namun bila memang perlu memberikan ASI perah, ada cara yang Mom bisa lakukan untuk mengurangi bau tengik, yaitu dengan scalding (pemanasan ASI) segera setelah ASI diperah dan sebelum dimasukan ke dalam freezer. Sayangnya, cara ini dapat membuat kadar gizi ASI berkurang, khususnya vitamin dan zat anti-infeksi yang berguna untuk daya tahan tubuh bayi. Sejumlah pakar laktasi menyarankan bahwa ASI perah yang dipanaskan tetap lebih baik dari susu formula. Tentunya tidak menjadi masalah kalau hanya diberikan sesekali ke bayi. Namun tidak disarankan  bila keseluruhan ASI perah yang diminum bayi semuanya dipanaskan dengan proses scalding.    Scalding ASI perah bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu melalui teknik konvensional dengan pemanasan di atas kompor atau yang lebih modern dengan penggunaan bottle warmer atau pemanas botol.      Scalding Di Atas Kompor     1. Tuangkan ASI segar yang baru diperah ke dalam panci kecil di atas kompor dan nyalakan kompor.  2. Jangan lupa memasukkan termometer khusus cairan (yang sudah dicuci bersih dengan sabun, disiram air panas agar steril dan dikeringkan dengan tisu) ke dalam panci kecil yang berisi ASI perah tersebut. ASI yang dipanaskan di atas kompor akan lebih cepat panas daripada yang dipanaskan dengan bottle warmer sehingga Mom harus selalu memperhatikan termometer agar suhunya tidak melebihi yang diharuskan karena akan merusak kandungan ASI perah tersebut.  3. Aduklah secara berkala agar ASI perah tercampur rata.  4. Ketika suhu mencapai 180 derajat Fahrenheit (sekitar 82 derajat celcius), akan terlihat gelembung kecil di sekitar tepi panci (jangan sampai mendidih penuh), lalu angkatlah panci dari kompor.  5. Dengan menggunakan corong, tuangkan ASI perah ke dalam botol kaca atau plastik yang bebas BPA dan tempatkan langsung dalam wadah air es. Pastikan batas paling atas ASI perah dalam botol terendam seluruhnya dalam wadah air es tersebut, lalu tutu botolnya. 6. Tempatkan botol dan wadah air es di lemari es agar dingin.  7. Setelah dingin, Mom dapat menyimpannya sesuai aturan penyimpanan ASI perah yaitu 5 hari di lemari es (suhu 0-4 derajat Celcius), 2 minggu di freezer 1 pintu (suhu -15 derajat Celcius), 3-6 bulan di freezer 2 pintu (suhu minimal 18 derajat Celcius) atau 6-12 bulan di deep freezer (suhu minimal 20 derajat Celcius).      Scalding Dengan Bottle Warmer     1. Tuangkan ASI segar yang baru diperah ke dalam botol stainless atau kaca tanpa ditutup. 2. Taruhlah botol stainless atau kaca tersebut ke dalam bottle warmer yang sudah diberi air hangat untuk mempercepat proses pemanasan. Namun jangan menggunakan air panas karena pemanasan yang terlalu cepat juga akan merusak ASI perah. 3. Tempatkan termometer khusus cairan ke dalam botol dan atur alarm termometer hingga 180 derajat Fahrenheit (sekitar 82 derajat Celcius) 4. Aduklah secara berkala agar ASI perah tercampur rata.  5. Ketika suhu mencapai 180 derajat Fahrenheit, angkat botol dari bottle warmer dan tempatkan langsung dalam wadah air es. Tutup botol dan letakkan di kulkas agar dingin. Bila Mom khawatir air es dalam wadah tidak sengaja masuk ke dalam botol yang berisi ASI perah, Mom bisa langsung menutup botolnya begitu mengangkatnya dari bottle warmer namun hati-hati akan panasnya.    6. Setelah dingin, Mom dapat menyimpannya sesuai aturan penyimpanan ASI perah yaitu 5 hari di lemari es (suhu 0-4 derajat Celcius), 2 minggu di freezer 1 pintu (suhu -15 derajat Celcius), 3-6 bulan di freezer 2 pintu (suhu minimal 18 derajat Celcius) atau 6-12 bulan di deep freezer (suhu minimal 20 derajat Celcius). Lebih jelasnya mengenai penyimpanan ASI perah, Mom bisa lihat di artikel saya sebelumnya ya.