hamil
menyusui
hamil minggu
anak sakit
Asi
MPASI
Resep mpasi
GTM
review

Apa Itu Popcorn Brain? Mencegah Anak Terkena Popcorn Brain

Anak dengan kondisi popcorn brain akan kebal terhadap stimulus sehari-hari dan tumbuh kembangnya akan terhambat. Ia akan mudah jenuh, sulit berkonsentrasi, daya ingat lemah, serta emosional. Batasi penggunaan gadget anak untuk mencegahnya terkena popcorn brain.

Anak dengan kondisi popcorn brain akan kebal terhadap stimulus sehari-hari dan tumbuh kembangnya akan terhambat. Ia akan mudah jenuh, sulit berkonsentrasi, daya ingat lemah, serta emosional. Batasi penggunaan gadget anak untuk mencegahnya terkena popcorn brain.   Sejak kapan Mom mulai memperkenalkan gadget pada si kecil? Seperti memberikannya tontonan Youtube, bermain games, atau hanya sekedar melihat foto atau video di handphone.   Memperkenalkan dan membolehkan anak menggunakan gadget memang tak salah. Namun yang perlu diperhatikan ialah batasannya. Orang tua harus memahami dengan benar apa tujuan memperkenalkan gadget kepada anak dan konsep pembatasan penggunaan gadget, sering juga disebut dengan istilah screen time. Pembatasan screen time ini perlu diperhatikan oleh orang tua, agar tidak berdampak negatif pada perkembangan anak, khususnya pada anak usia balita. Hal ini dikarenakan usia balita merupakan tahapan paling penting bagi pertumbuhan otak dan perkembangan hubungan sosial anak.   Banyak alasan yang mendorong orang tua untuk memberikan gadget terlalu dini pada anaknya. Seperti, agar anak mau duduk anteng tidak lari sana sini, agar si anak mau makan diberikan tontonan video sebagai pengalihan, bahkan ada juga orang tua yang khawatir anaknya akan gaptek sehingga merasa perlu untuk secepat mungkin memperkenalkan gadget pada anak.   Menurut rekomendasi American Academy of Pediatrics (APP), anak di bawah usia 18 bulan perlu dihindari dari gadget, selain video chatting (video call atau face time). Anak usia 18-24 bulan sudah diperbolehkan menggunakan gadget dengan syarat perlu pendampingan orang tua dan dipilihkan program atau aplikasinya. Dan anak usia 2-5 tahun perlu dibatasi maksimum 1 jam setiap harinya untuk screen time serta orang tua perlu mendampingi agar bisa membantu anak memberikan pemahaman apa yang sedang ia lihat dan bagaimana penerapannya di dunia nyata.   Pastinya Mom sudah banyak tahu tentang dampak negatif penggunaan gadget yang terlalu sering pada anak. Seperti anak terkena dampak radiasinya, mata anak rusak karena terlalu lama screen time, dan lainnya. Lebih jauh lagi, kecanduan gadget dapat mengakibatkan anak teserang popcorn brain. Apakah Mom pernah mendengar istilah “popcorn brain”? Yuk, kita bahas lebih detil.   Apa itu Popcorn Brain?   Istilah popcorn brain pertama kali dikenalkan oleh David Levy untuk menyebut kondisi otak yang sudah terbiasa dengan layar gadget dan stimulasi konstan multitasking elektronik yang kuat sehingga otak meletup-letup bak popcorn. Popcorn brain dapat terjadi pada semua orang, tidak mengenal batasan usia, termasuk anak-anak.   Kadang kala anak begitu serius dan asik sendiri dengan perangkat digital seperti handphone atau laptop. Sampai-sampai tidak menyaut saat kita panggil. Hal ini bukan karena dia sedang berkonsentrasi, melainkan justru sedang “dikendalikan”, dan tanpa sadar si kecil mengalami popcorn brain.   Lebih jauh lagi, jika anak terbiasa screen time dengan waktu yang lama dan intens, maka struktur otak cenderung tidak bisa beradaptasi dengan dunia nyata. Anak akan terus mencari dan memilih bermain dengan gadgetnya dibandingkan aktivitas bermain bahkan dengan temannya.   Bagaimana anak bisa terkena popcorn brain?   Perlu diakui, saat ini banyak sekali aplikasi di gadget yang sangat menarik dan menyenangkan terutama bagi anak-anak. Bahkan banyak aplikasi permainan edukasi di gadget yang menyajikan tayangan dengan gambar dan warna yang menarik. Belum lagi game online yang semakin banyak digilai oleh anak-anak baik melalui laptop maupun handphone dengan fitur-fitur yang makin canggih.   Saat screen time atau penggunaan gadget, anak secara otomatis terstimulus yang kuat ada indra penglihatan dan pendengaran melalui gambar, sinar, warna yang mencolok dari gadget. Dan struktur dna kondisi otak akan merespon stimulus kuat itu hingga otak “meletup-letup”.   Misalnya, Mom mengijikan si kecil untuk menonton video anak-anak di Youtube atau bermain aplikasi game di handphone. Tontonan video dan game tersebut merupakan stimulus yang kuat untuk anak. Mengapa? Karena begitu menariknya grafis baik warna dan gambar yang ditampilkan, suara atau musik yang menyenangkan. Sehingga perhatian anak akan terpusat pada aplikasi tersebut dna tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Mendapatkan stimulus yang kuat secara terus menurus otomatis otak akan terbiasa untuk merespon dengan kuat, meletup-letup.   Kondisi anak seperti inilah yang disebut dengan popcorn brain. Apakah berbahaya? Tentu.   Bahaya popcorn brain   Jangan remehkan popcorn brain ada anak. Anak dengan kondisi popcorn brain akan terus mencari hal-hal yang impusif, cepat, dan menarik. Si kecil akan “kebal” dengan stimulus yang biasa saja. Artinya sata diajak bermain mobilan atau boneka, mungkin ia akan tertarik. Namun tidak akan lama, ia akan cepat bosan dan meminta untuk main game di gadgetnya.   Selain membuat candu akan gadget, perkembangan sosial anakpun akan lambat, ia menjadi terisolir dari interaksi sosial dengan teman dan lingkungannya. Kondisi popcorn brain juga akan menurunkan daya konsentrasi anak. Sebab otak hanya akan mencari stimulus yang kuat dan efek sampingnya daya ingat anak akan lemah.   Umumnya, anak dengan kondisi popcorn brain akan mengalami kesulitan dalam pelajaran karena dia tidak bisa berkonsentrasi. Lebih parahnya lagi, akibat popcorn brain, perkembangan emosional anak tidak baik, anak akan sulit untuk mengendalikan emosinya. Jika tidak terus diberi stimulus yang kuat, anak akan mudah jenuh dan kesal.   Bahaya bukan Mom popcorn brain pada anak? Untuk itu, mari batasai screen time anak dan damping anak saat menggunakan gadgetnya. Manfaatkan teknologi dan gadget dengan bijak. Gunakan aplikasi education game untuk anak, agar ia tidak hanya sekedar bermain tapi juga belajar, serta dampingi.   Jangan memberikan anak gadget hanya agar ia bisa diam duduk ya Mom. Lebih baik biarkan si anak aktif bermain, berlari-lari, karena hal itu baik untuk tumbuh kembangnya.