Constructive Eati
NAOMIITO
ASI
anak
me
hamil
Bayi
Ibu
MPASI

Jangan Lakukan 6 Hal ini Ke Bayi

Sebagai Seorang New Mommy, pasti ada banyak hal yang kurang di mengerti dalam menjaga Anak yang baru lahir. Apalagi dengan tidak ada kehadiran Sang Suami di samping yang membantu menjaga, di tambah lagi kesibukan dalam mengurus rumah, pasti banyak hal yang terkadang kita lakukan tanpa tersadari. Apa

Sebagai Seorang New Mommy, pasti ada banyak hal yang kurang di mengerti dalam menjaga Anak yang baru lahir. Apalagi dengan tidak ada kehadiran Sang Suami di samping yang membantu menjaga, di tambah lagi kesibukan dalam mengurus rumah, pasti banyak hal yang terkadang kita lakukan tanpa tersadari. Apa saja yang seharusnya Mommy lakukan dan tidak boleh lakukan? Berikut ini, 6 hal yang tidak boleh dilakukan dalam mengurus Bayi yang baru lahir:   1. Jangan biarkan bayi Anda lapar!   Secara alami saya adalah orang yang manut-manut saja. Ketika dokter anak saya menyuruh saya untuk menyusui anak saya tiap empat jam, saya memerhatikan jam saya dan saya mulai menyusuinya. Yang menjadi masalah adalah, produksi susu saya tidak mencukupi karena pemberian makan yang tidak biasa dan anak laki-laki saya selalu kelaparan. Ketika akhirnya saya menyadari bahwa anak yang baru lahir seharusnya diberi makan setiap kali dia meminta, berat badan anak saya mulai bertambah dan suasana hatinya mulai membaik. Saya merasa bersalah membiarkan dia kelaparan. Tidak heran sejak saat itu dia memakan apa pun yang ada di tangannya.   2. Hanya karena Anda menyukai hobi Anda, jangan mengabaikan menggendong bayi Anda   Saya merasa sangat malu dan pantas mendapatkan ejekan dari semua orang untuk hal yang satu ini. Ketika bayi pertama saya lahir, pekerjaan membuat album foto baru saja mulai. Saya menyibukkan diri saya dengan gambar tempel yang lucu-lucu, mencetak bentuk karakter dari kertas, gunting-menggunting, dan foto. Ketika bayi saya rewel, saya kadang-kadang berlama-lama dalam mengurus hobi saya dan menunda untuk mengangkat bayi saya . Ayunan bayi sangat membantu, tetapi saya merasa bersalah membiarkan bayi saya menangis saat saya justru asyik dalam hobi saya.   3. Jangan gugup   Ketegangan dan rasa lelah saya dan stres yang dialami bayi saya tidak betul-betul seimbang satu sama lain. Saya menyadari bahwa saya perlu mengendalikan situasi dan menenangkan diri saya. Sebuah ungkapan mengatakan, “Ketika ibu tidak bahagia, tidak seorang pun bahagia.” Bayi Anda akan merasakan situasi hati, emosi, dan reaksi Anda. Biarkan ayah mengambil alih sementara Anda sedang beristirahat. Dia juga perlu menjalin ikatan batin dengan bayi.   4. Jangan bekerja memperbanyak jadwal Anda   Entah Anda sudah memiliki tanggal yang dipilih untuk melahirkan atau mengetahui secara garis besar kapan bayi akan lahir, bersihkan kalender Anda dari berbagai kegiatan. Jika Anda sedang cuti hamil dari tempat pekerjaan, dedikasikan setiap menit dari waktu Anda untuk bayi Anda, diri Anda sendiri, dan keluarga Anda. Jika dan ketika Anda merasa perlu dan aman untuk membawa bayi ke luar rumah, maka buatlah janji makan siang dengan seorang teman atau pergi ke salon. Kalau tidak, anggap santai dan gunakanlah kesempatan dari waktu Anda untuk bercengkerama dengan bayi Anda yang baru lahir.   5. Jangan pernah menolak pertolongan!   Jika teman baik Anda menawarkan untuk membawakan makan malam, jangan menolak. Sambutlah apa pun tawaran yang datang, membersihkan lantai dapur atau menjaga anak-anak Anda yang lain. Orang-orang senang untuk menolong. Menolak tawaran pertolongan tidak hanya membuat kecewa orang lain, tetapi Anda kehilangan kesempatan yang berharga. Sekarang bukanlah waktunya untuk memainkan peran wanita santai yang mandiri---Anda memiliki bayi yang baru lahir, yang menangis keras.   6. Jangan meninggalkan bayi Anda yang baru lahir bersama anak kecil Anda tanpa pengawasan   Suatu pagi sekitar satu bulan setelah melahirkan anak kedua saya, saya meninggalkan bayi saya tidur di atas selimut di ruang keluarga. Ketika saya kembali beberapa menit kemudian, saudara laki-lakinya yang berumur 2 tahun sedang menarik kakinya mengelilingi ruangan. Dia sedang bermain bersama adik barunya dan berpikir menarik adiknya adalah perbuatan yang baik. Saya berteriak ketakutan. Untungnya, anak ke dua saya terhindar dari luka-luka dan anak pertama saya pergi dengan omelan lembut Mama.   Baca juga: # Tips Mengatasi Bingung Puting pada Bayi